rinduku sesepi malam
cinta berahir kelam
kasih terlampau dalam
dulu senyum sekarang muram
dalam ikatan ada sayang
sayang hilang di curi orang
orang itu seperti binatang
binatang seolah menjadi bintang
langkah ku
Kamis, 04 April 2013
Selasa, 19 Maret 2013
Rabu, 13 Maret 2013
Oleh : Abdul Fatah Baidowi
Dosen Pembimbing : Roziah, S. Pd.,M.A.
KAJIAN MAKNA
DALAM SEMANTIK
DALAM SEMANTIK

PENGERTIAN MAKNA
Menurut Para Ahli
Prof. Dr. Hj. T. Fatimah Djajasudarma
Ferdinan De Saussure
Pengertian Makna
Menurut
Prof. Dr. Hj. T. Fatimah Djajasudarma mengatakan bahwa :
Makna adalah pertautan yang ada diantara
unsur-unsur bahasa itu sendiri terutama kata-kata.
Menurut
Ferdinan de Saussure mengatakan bahwa :
Makna adalah Lambang bunyi yang terbentuk
dari fonem-fonem bahasa yang bersangkutan.
Contoh Tanda Linguistik yang dieja :
Rumah
Sepatu
PENDEKATAN DALAM KAJIAN MAKNA
Pendekatan berdasarkan
dua fungsi bahasa:
1. Referensi.
1. Referensi.
2. Ioperasional
Pendekatan
referensial
Ingin mencari makna
dengan cara menguraikannya atas segmen-segmen utama.
Contoh: kata istri
dapat menjadi:
- perempuan
- telah bersuami
- Berambut panjang
Pendekatan operasional
ingin mempelajari kata dalam penggunaannya.
Contoh: kata istri dapat
menjadi:
- si Badu menpunyao istri
- banyak istri yang kerja di kantor
Jenis mkana
Makna
kognitif
Makna denotasi
Makna proposisi
Makna ideasional
Aspek-aspek mkana
pengertian
maksud
nada
Nilai rasa
Yang benar dari Allah
Yang salah dari diri penyaji
Oleh : Abdul Fatah Baidowi
Rabu, 20 Februari 2013
sosiolingguistik
BAB 2
KOMUNIKASI BAHASA
2.1 Hakikat Bahasa
Ciri-ciri yang merupakan hakikat bahasa yaitu itu antara
lain, adalah bahwa bahasa itu sebuah sistem lamabang, berupa bunyi, bersifat
arbiterer, produktif, dinamis, beragam, dan manusiaw. Berikut dibicarakan
ciri-ciri tersebut secara singkat.
Bahasa adalah
sebuah sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola
secara tetap dan dapat dikaidahkan. Bagi orang yang mengerti sistem bahasa
Indonesia akan mengakui bahwa susunan “Ibu meng....seekor....di...” adalah
sebuah kalimat yang bahasa Indonesia yang bear sistemnya, meskipun ada sejumlah
komponen yang ditanggalkan. Tetapi susunan “Meng ibu se ikan goreng di ekor
dapur” bukanlah kalimat bahasa Indonesia yang benar karena tidak tersusun
menurut sistem kalimat bahasa Indonesia. Sebagai sebuah sistem, bahasa selain
bersifat sistematis juga bersifat dinamis. Dengan dinamis maksudnya bahasa itu
tersusun menurut suatu pola tertentu, tidak tersusun secara sembarangan.
Sedangkan sistemis, artinya, sistem bahasa itu bukan merupakan sebuah sistem
tunggal, melainkan terdiri dari sejumlah subsistem, yakni subsistem fonologi,
subsistem morfologi, subsistem sintaksis, dan subsistem leksikon.
Sistem bahasa
yang dibicarakan diatas adalah berupa lambang-lambang dalam bentuk bunyi.
Artinya, lambang-lambang itu berbentuk bunyi, yang lazim disebut bunyi ujar
atau bunyi bahasa. Setiap lambang bahasa melambangkan sesuatu yang disebut
makna atau konsep. Umpanya, lambang bahasa yang berbunyi (kuda) melambangkan
konsep atau makna “sejenis binatang yang berkaki empat yang biasa dikendarai”,
dan lambang bahasa yang berbunyi (spidol) melambangkan konsep atau makna
“sejenis alat tulis yang bertinta”. Karena setiap lambang bunyi itu memiliki
atau menyatakan sesuatu konsep atau makna, maka dapat disimpulkan setiap satu
ujaran bahasa memiliki makna.
Lambang bunyi bahasa
itu bersifat arbiter. Artinya, hubungan antara lambang dengan yang
dilambangkannya tidak wajib, bisa berubah, dan tidak dapat dijelaskan mengapa
lambang tersebut mengonsepsi makna tertentu. Meskipun lambang-lambang bahasa
itu bersifat arbitrer, tetapi juga bersifat konvensional. Artinya, setiap
penutur suatu bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang
dilambangkan. Misalnya, lambang (kuda)
hanya digunakan untuk menyatakan ‘sejenis binatang berkaki empat yang
bisa dikendarai’, dan tidak untuk melambangkan konsep yang lain, sebab jika
dilakukannya berarti dia telah melanggar konvensi itu. sebagaimana akibatnya,
tentu komunikasi akan terhambat.
Bahasa itu
bersifat produktif, artinya, dengan sejumlah unsur yang terbatas, namun dapat
dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas. Umpanya, menurut Kamus
Umum Bahasa Indonesia susunana W. J. S. Purwadarminta bahasa Indonesia hanya
yang mempunyai lebih kurang 23.000 buah kata; tetapi dengan 23.000 buah kata
itu dapat jutaan kalimat yang tidak terbatas.
Bahasa itu
bersifat dinamis, maksudnya, bahasa itu tidak terlepas dari berbagai
kemungkinan perubahan yang sewaktu-sewaktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat
terjadi pada tataran apa saja: fonologi, morfologis, sintaksis, semantik, dan
leksikon.
Bahasa itu
beragam, artinya, meskipun sebuah bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu
yang sama, namun karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang
mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi
beragam, baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksi maupun pada tataran
leksikon.
Bahasa itu
ersifat manusiawi. Artinya, bahasa sebagai alat komunikasi verbal hanya
dimiliki manusia. Hewan tidak mempunyai bahasa. Yang dimiliki hewan sebagai
alat komunikasi, yang berupa bunyi atau gerak isyarat, tidak bersifat produktif
dan tidak dinamis.
2.2
Fungsi-Fungsi Bahasa
Wardhaugh (1972:3-8) mengatakan bahwa fungsi
bahasa adalah alat komunikasi manusia, baik tertulis maupun lisan.
Bagi sosiolinguistik
konsep bahasa adalah alat atau berfungsi auntuk menyampaikan pikiran dianggap
terlalu sempit; sebab seperti dikemukankan Fishman (1972) bahwa yang menjadi
persoalan sosiolinguisti adalah “who speak what language to whom, when and to
what end’”. Oleh karena itu, fungsi-funsi bahasa itu, antara lain, dapat
dilihat dari sudut penutur, pendenganr, topik, kode, dan amanat pembicaraan.
Dilihat dari
sudut penutur, maka bahasa itu berfungsi personal atau pribadi. (lihat Halliday
1973, Finnocchiaro 1974;Jakobson 1960 menyebutkan fungsi emotif). Maksudnya, si
penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Si penutur bukan
hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa, tetapi juga memperlihatkan emosi itu
sewaktu menyampaikan tuturannya. Dalam hal ini pihak si pendengar juga dapat
menduga apakah si penutur sedih, marah, atau gembira.
Dilihat dari
segi pendengar atau lawan bicara, maka bahasa itu berfungsi direktif, yaitu
mengatur tingkah laku pendengar (lihat Finnocchiaro 1974;Halliday 1973 menyebutkan
fungsi instrumental). Di sini bahasa itu tidak “hanya membuat si pendengar
melakukan sesuatu, tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang diamui si
pembicara.
Dilihat dari
segi kontak antara penutur dan pendengar maka bahasa disini berfungsi falik
(Jakobson 1960; Finnocchhiaro 1974 menyebutkan interpersonal’ dan Hallday 1973
menyebutkan interractional), yaitu fungsi menjalin hubungan, memelihara,
memperlihatkan perasaan sahabat, atau solidaritas sosial.
Dilihat dari
segi topik ujaran, maka bahasa itu berfungsi referensial (Finnocchiaro
1974;Halliday 1973 menyebutkan resepresential; Jakobson 1960 menyebutkan fungsi
kognitif), ada juga yang meyebutkan fungsi donotatif atau fungsi informatif. Di
sini bahasa itu berfungsi sebagai alat untuk membicarakan objek atau peristiwa
yang ada disekeliling penutur atau yang ada dalam budaya pada umumnya
Dilihat dari
segi kode yang digunakan, maka bahasa itu berfungsi metalingual atau
metelinguistik (Jakobsin 1960;Finnocchiaro 1974), yakni bahasa itu digunakan
unutk membicarakan bahasa itu sendiri.
Dilihat dari
segi amanat (massage) yang akan disampaikan maka bahasa itu berfungsi
imaginatif (Halliday 1973;Finnoccharo 1974; Jakobson 1960 menyebutkan fungsi
poetic speech). sesungguhnya bahasa itu dapat digunakan unutk menyampaikan
pikiran, gagasan, dan perasaan; baik yang sebenarnya, maupun yang yang Cuma
imaginasi (khalayan, rekaan) saja.
Dilihat dari
buku dan sumber lain, misalnya Nababan (1983) tentu akan kita temukan berbagai
fungsi bahasa yang lain, yang dilihat dari sudut pandang yang berbeda.
2.3
Hakikat Komunikasi
Ada tiga komponen yang harus ada
dalam setiap proses komunikasi yaitu:
1. Pihak
yang berkomunikasi, yakni pengiriman dan penerima informasi yng dikomunikasikan
yang lazim disebut partisipan
2. Informasi
yang dikomunikasikan
3. Alat
yang digunakan dalam komunikasi itu.
Komponen ketiga
dalam peristiwa komunikasi adalah alat komunikasi yang digunakan, yaitu bahasa
(sebagai sebuah sistem lambang), tanda-tanda (baik berupa gambar, warna,
ataupun bunyi), dan gerak-gerik tubuh.
Berdasarkan alat yang digunakan dibedakan adanya dua macam komunikasi,
yaitu (1) komunikasi non verbal dan (2) komunikasi verbal atau komunikasi
bahasa. Komunukasi non verbal adalah komunikasi komunikasi yang menggunakan alat
bukan bahasa, seperti bunyi peluit, cahaya (lampu, api), semafor, dan termasuk
juga alat komunikasi dalam masyarakat hewan. Sedangkan komunikasi verbal atau
komunikasi bahasa adalah komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai alatnya.
Bahasa yang digunakan dalam komunikasi ini tentunya harus berupa kode yang
sama-sama dipahami oleh pihak penutur dan pihak pendengar.
2.4
Komunikasi Bahasa
Dalam setiap komunikasi-bahasa ada
dua pihak yang terlibat, yaitu pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receiver).
Ujaran (berupa kalimat atau kalimat-kalimat) yang digunakan untuk menyampaikan
pesan (berupa gagasan, pikiran, saran, dan sebagainya) yang disampikan pengirim
(penutur) kepada penerima (pendengar). Setiap proses komunikasi-bahasa dimulai
dengan si pengirim merumuskan terlebih dahulu yang ingin diujarkan dalam suatu
kerangka gagasan. Proses ini dikenal dengan istilah semantic enconding. Gagasan
itu lalu disusun dalam bentuk kalimat atau kalimat-kalimat yang gramatikal;
proses memindahkan gagasan kedalam bentuk kalimat yang gramatikal ini disebut
grammatical enconding.
Ada dua macam komunikasi bahasa,
yaitu komunikasi searah dan komunikasi dua arah. Dalam komunikasi searah, si
pengirim tetap sebagai pengirim, dan si penerima tetpa sebagai penerima.
Komunikasi searah ini terjadi, misalnya, dalam komunikasi yang bersifat
memberitahukan, khotbah di masjid atau gereja, ceramah yang diikuti tanya
jawab, dan sebagainya. Dalam komunikasi dua arah, secara berganti-ganti si
pengirim bisa menjadi penerima, dan penerima bisa menjadi pengirim. Komunikasi
dua arah arah ini terjadi, misalnya, dalam rapat, perundingan, diskusi, dan
sebagainya.
Sebagai alat komunikasi, bahasa itu
terdiri dari dua aspek, yaitu aspek linguistik dan aspek nonlinguistik atau
paralinguistik. Kedua aspek ini “bekerja sama” dalam membangun
komunikasi-bahasa itu. Aspek linguistik mencakup tataran fonologis, morfologis,
dan sintaksis. Ketiga tataran ini mendukung terbentuknya yang akan disampaikan,
yaitu semantik (yang di dalamnya terdapat makna, gagasan, ide, atau konsep).
Aspek paralinguistik mencakup (1) kualitas ujaran, yaitu pola ujaran seseorang,
seperti faselto (suara tinggi), staccato (suara terputus-putus), dan
sebagainya; (2) unsur supra segmental, yaitu tekanan (stres), nada (pitch), dan
intonasi; (3) jarak dan gerak-gerik tubuh, seperti gerakan tangan, anggukan
kepala, dan sebagainya; (4) rabaan, yakni yang berkenaan dengan indera perasa
(pada kulit).
Untuk lebih memahami kelebihan
komunikasi-bahasa ini dibandingkan dengan sistem komunikasi yang ada dalam
komunikasi yang ada dalam dunia hewan. Hasil penelitian yang diangkat dari
Fromkin dan Rodman 1974 dan Akmajian dkk. 1979.
Ada beberapa penilitian yang telah
dilakukan terhadap sistem komunikasi berbagai jenis burung. Penelitian ini
meyimpulkan bahwa dalam sistem komuniksi burung yang yang berupa “bunyi burung”
dapat dibedakan ada dua macam komunikasi, yaitu (1) panggilan dan (2) nyanyian.
Jeniskomunikasi burung yang disebut panggilan brupa bunyi yang terdiri dari
satu nada pendek atau lebih, yang isinya atau pesannya sudah ditentukan sejak
lahir.
Penelitian terhadap sistem
komunikasi lebah madu yang dilakukan oleh Von Frisch (Akmajian 1979)
menunjukkan bahwa lebah pekerja (yang dapat kembali ke sarangnya dan memberi
tahu lebah-lebah lainnya dimana ada sumber makanan.
Penelitian terhadap alat komunikasi
lumba-lumba menunjukkan bahwa lumba-lumba menggunakan bunyi vokal yang mirip
bunyi “ceklekan” untuk mengatahui dengan tepat lokasi objek-objek yang mungkin
menghalangi perjalannya didalam laut.
Peniliitian terhadap simpanse dan terhadap
beberapa hewan primata lainnya menunjukkan bahwa simpanse berkomunikasi dengan
menggunakan sistem yang termasuk tanda-tanda visual, tanda-tanda yang dilihat
berupa gerakan tubuh dan anggota badan lain; serta memalui pendegaran,
penciuman, dan perabaan.
2.5
Keistimewaan Bahasa Manusia
Menurut Hockett
dan Mc Neill ada 16 butir ciri kkhusus yang membedakan sistem komunikasi bahasa
dari sistem komunikasi makhluk lainnya. Keenam belas ciri itu adalah sebagai
berikut:
1. Bahasa
itu menggunakan jalur vokal auduitif. Banyak hewan, termasuk jengkrik, katak
dan burung, yang sistem komunikasinya dapat didengar. Namun, tidak semuanya
merupakan bunyi vokal. Katak, burung dan orang utan ini juga mempunyai jalur
vokal auditif ini, seperti yang dimiliki manusia.
2. Bahasa
dapat tersiar ke segala arah; tetapi penerimaannya terarah. Maksudnya, bunyi
bahasa yang diucapkan dapat didengar di semua arah karena suara atau bunyi
bahasa itu merambat melalui udara; tetapi penerima atau pendengar dapat
mengetahui dengan tepat dari mana arah bunyi bahasa itu datang.
3. Lambang
bahasa yang berupa bunyi itu cepat hilang setelah diucapakn. Hal ini berbeda
dengan tanda atau lamabang lain, seperti bekas tapak kaki hewan, dan patung kepahlawanan
yang dapat bertahan lama.
4. Partisipasi
dalam komunikasi bahasa dapat saling berkomunikasi. Artinya, seorang penutur
bisa menjadi seorang pengirim lambang dan dapat juga menjadi penerimalambang
itu.
5. Lambang
bahasa itu dapat menjadi umpan balik yang lengkap. Artinya pengirim lambang
(penutur) dapat mendengar sendiri lambang bahasa itu.
6. Komunikasi
bahasa mempunyai spesialisasi. Maksudnya, manusia dapat berbicara tanpa harus
mengeluarkan gerakan-gerakan fisik yang mendukung proses komunikasi itu.
7. Lambang-lambang
bunyi dalam komunikasi bahasa adalah bermakna atau merujuk pada hal-hal
tertentu. Umpamanya kata kuda mengacu pada sejenis hewan berkaki empat yang
biasa dikendarai.
8. Hubungan
antara lambang bahasa dengan maknanya bukan ditentukan oleh adanya suatu ikatan
antara keduanya; tetapi ditentukan oleh suatu persetujuan atau konvensi di
antara para penutur suatu bahasa. Jadi hubungan antara lambang bunyi (kuda)
dengan maknanya, yaitu “sejenis kaki yang berkaki empat yang biasa dikendarai”
bersifat arbitrer, semaunya.
9. Bahasa
sebagai alat komuniksi manusi adapat dipisahkan menjadi unit satuan-satuan,
yakni, kalimat, kata, morfem, dan fonem. Padahal alat komunikasi makhluk lain
merupakan satu kesatuan yang tidak dapt dipisah-pisahkan.
10. Rujukan
atau yang sedang dibicarakan dalam bahasa tidak harus selalu ada pada tempat
dan waktu kini.
11. Bahasa
bersifat terbuka. Artiya, lambang-lambang ujaran baru dapat dibuat sesuai
dengan keperluan manusia.
12. Kepandaian
dan kemahiran untuk menguasai atauran-aturan dan kebiasaan-kebiasaan berbahsa
manusia diperoleh dari belajar, bukan melalui gen-gen yang dibawa sejak lahir.
13. Sehubungan
dengan ciri (12) diatas, maka bahasa itu dapat dipelajari. Artinya seseorang
yang dilahirkan dan dibesarkan, misalnya, dalam bahasa A dapat mempelajari
bahasa lain, yang bukan bahasa lingkungannya.
14. Bahasa
dapat digunakan untuk menyatakan yang benar dan yang tidak benar, atau juga
yang tidak bermakna secara logikal. Misalnya kita dapat mengatakan “Penduduk
jakarta dewasa ini ada satu juta orang”, atau juga “Ibu kota Kerajaan Inggris
adalah Oxford”.
15. Bahasa
memiliki dua subsistem, yaitu subsistem bunyi adan subsistem makna, yang
memungkinkan bahasa itu memiliki keekonomisan fungsi. Keokonomisan fungsi itu
terjadi karena bermacam-macam unit bunyi yang fungsional bisa dikelompokkan dan
dikelompokkan lagi kedalam unit-unit yag berarti.
16. Ciri
terakhir adalah bahasa itu dapat kita gunakan unutk membicarakan bahasa itu
sendiri. Alat komunikasi dari hewan tak ada yang dapat digunakan untuk
membicarakan alat komunikasi hewan itu sendiri.
2.
Simpulan
Ciri-ciri hakikat bahasa yaitu antara lain adlaah bahwa
bahasa itu sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis,
beragam, dan manusiawi. Fungsi bahasa menurut Wardhaugh, bagi sosiolinguistik,
dilihat dari sudut penutur, dilihat dari segi pendengar atau lawan bicara,
dilihat dari segi kontak antara penutur, dilihat dari segi topik ujaran,
dilihat dari segi kode yang digunakan, dilihat dari segi amanat, dan dilahat
dari buku atau sumbar lain. Hakikat komunikasi bahasa, ada 3 komponen dalam
setiap komunikasi yaitu: pihak yang berkomunikasi, informasi yang
diinformasikan, alat yang digunakan dalam komunikasi itu. keistimewaan bahasa
manusi ada 16 yaitu: bahasa itu menggunakn jalur auditif, bahasa itu tersiar
kesegala arah, lambang bahasa yang berupa bunyi itu cepat hilang setelah
diucapakan, partisipan dalam komunikasi bahasa dapat saling berkomunikasi,
lambang bahasa itu dapat menjadi umpan balik yang lengkap, komunikasi bahasa
mempunyai spesialisasi, lambang-lambang bunyi dalam komunikasi bahasa adalah
bermakna atau merujuk pada hal tertentu, hubungan antara lambang bahasa dengan
maknanya bukan ditentukan oleh adanya suatu ikatan antara kedunya, bahasa
sebagai alat komunikasi manusia dapat dipisahkan menjadi satuan-satuan, rujukan
yang sedang dibicarakan dalam bahasa tidak harus selalu ada pada tempat dan
waktu ini, bahasa bersifat terbuka, kepandaian dan kemahiran, bahasa itu dapat
dipelajari, bahasa dapat menyatakan yang benar dan yag itdak benar, bahasa
memiliki dua subsistem, bahasa itu dapat kita gunakan untuk membicarakan bahasa
itu sendiri.
Senin, 17 Desember 2012
1. Pengertian statistik
Statistik adalah kumpulan data, bilangan maupun non bilangan yang
disusun dalam table dan atau diagram yang melukiskan suatu persoalan.
2. Pengertian statistika
Statistika adalah pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara
pengumpulan data, pengolahan atau penganalisaannya dan penarikan
kesimpulan berdasarkan kumpulan data dan penganalisaan yang dilakukan.
3. Pengertian statistika pendidikan
Statistik pendidikan adalah statistik dalam pengertian sebagai ilmu
pengetahuan,yaitu ilmu pengetahuan yang membahas atau mempelajari dan
memperkembangkan prinsip-prinsip metode, dan prosedur yang perlu
ditempuh atau dipergunakan,dalam rangka pengumpulan,
penyusunan,penyajian,penganali saan
bahan keterangan yang berwujud angka mengenai hal-hal yang berkaitan
dengan pendidikan (khususnya proses belajar-mengajar),dan penarikan
kesimpulan,pembuatan perkiraan serta ramalan secara ilmiah (dalam hal
ini secara matematik) atas dasar kumpulan bahan keterangan yang berwujud
angka.
4. Pengertian data statistik
Data Statistik adalah data yang berwujud angka atau bilangan.
5. Macam-macam data statistik dan contoh nya
MENURUT SUMBER DAN PENGGUNAANNYA:
1.Data Internal Yaitu data yang menggambarkan keadaan atau kegiatan
suatu badan yang dikumpulkansendiri dan hasil datanya digunakan oleh
badan itu sendiri. Contoh:-Data pengeluaran keuangan untuk membayar
biaya produksi perusahaan tekstil-Data hasil produksi pabrik mie
“sedaap”.
2.Data Eksternal Yaitu data yang menggambarkan
keadaan atau kegiatan di luar badan dan data tersebuttidak terdapat
dalam aktivitas intern suatu badan. Contoh:-Bagi perusahaan “LG”, data
daya beli masyarakat terhadap barang produksinya(seperti TV “
Turbo
Swing ”) adalah data eksternal perusahaan tersebut-Data tingkat kepuasan
masyarakat terhadap barang produksi menjadi tolok ukur
dalammengembangkan daerah pemasaran.
MENURUT CARA MEMPEROLEHNYA:
1.Data Primer Yaitu data yang dikumpulkan dan diolah sendiri oleh suatu
badan secara langsung sertaditerbitkan oleh badan itu pula
.Contoh:-Sensus penduduk oleh BPS, dihasilkan data primer langsung dari
penduduk -Data pengeluaran beras di gudang penyimpanan BULOG.
2.Data Sekunder Yaitu data yang dilaporkan oleh suatu badan sedang badan
ini tidak secara langsungmengumpulkan sendiri tapi diperoleh dari pihak
lain yang telah mengumpulkannya. Contoh: Data kenaikan atau penurunan
nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing dari BEJ-Pemeriksaan dan
pendataan ulang barang impor di pelabuhan dari pihak bea cukai.
MENURUT SIFATNYA: Data Kualitatif Yaitu kemungkinan observasi yang tidak dinyatakan dengan angka-angka.
Contoh:-Nilai rupiah sangat kuat.
a. Pengangguran dan kemiskinan meningkat tajam.
Data Kuantitatif Yaitu serangkaian observasi atau pengajaran yang dapat dinyatakan dengan angka-angka.
Contoh:-Nilai rupiah Rp 9.250,00 per US$ di akhir tahun 2006
b. Jumlah pengungsi akibat banjir di Jakarta sebanyak 1423 jiwaData
kuantitatif terbagi atas:a.Data DiskritYaitu data yang hanya mempunyai
sejumlah terbatas nilai-nilai.Contoh:-Jumlah mahasiswa di sebuah
universitas-Banyaknya masyarakat yang memakai kendaraan roda dua di
daerah Purwokerto b.Data KontinuYaitu data yang secara teoritis dapat
menjalani setiap nilai. Disebut juga nilai pengamatan kuantitatif
kontinyu.Contoh:-Pengukuran debit air di bendungan-Pengukuran tingkat
curah hujan di daerah Bandung.
MENURUT WAKTU PENGUMPULAN:
1.Data Cross Section Yaitu data yang dikumpulkan pada suatu waktu
tertentu yang bisa menggambarkankeadaan atau kegiatan pada waktu
tersebut.Contoh:-Data jumlah TKI yang meninggal pada tahun 2006 akibat
kekerasan menggambarkankurangnya perlindungan keselamatan TKI di luar
negeri-Bencana meluasnya lumpur lapindo menandakan kurang seriusnya
pemerintah dalammenangani korban bencana tersebut.
2.Data Time
SeriesYaitu data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu sehingga ada
perkembangannya(trend )yang menunjukkan arah secara umum. Garistrend
sangat berguna untuk membuatramalan (forecasting) yang dibutuhkan bagi
perencanaan.
Masalah paling dasar dari persoalan statistik
adalah menentukan populasi data. Secara umu, populasi bisa didefinisikan
sebagai sekumpulan data yang mengidentifikasi suatu fenomena.
Sebenarnya, definisi populasi lebih tergantung dari kegunaan dan
relevansi data yang dikumpulkan. Populasi dalam statistik tidak hanya
terbatas pada masalah-masalah manusia atau bisnis, namun dapat lebih
luas cakupannya.
6. Cara-cara pengumpulan data :
1. Observasi
observasi atau pengamatan melibatkan semua indera penglihatan, penciuman,
pendengaran,pembau dan perasa. Observasi itu digunakan untuk
mengumpulkan informasi yang didapat baik dari buku maupun pengalaman.
Jadi,observasi merupakan suatu metode pengumpulan data yang dilakukan
oleh peneliti untuk mencatat kejadian atau peristiwa dengan
menyaksikannya.
2. Wawancara
wawancara merupakan
teknik pengambilan data dimana peneliti langsung berdialog dengan
responden untuk menggali informasi dari responden. Teknik wawancara
memakan waktu dan biaya yang sangat besar untuk sampel yang cukup besar
dan tersebar. Wawancara berarti komunikasi antara pewawancara dan orang
yang diwawancara, hal ini cenderung menimbulkan perbedaan interpretasi
antara keduanya. Namun dengan wawancara dapat diperoleh informasi lebih
lengkap.
Wawancara terbagi menjadi 2 :
a. Wawancara Terstruktur
b. Wawancara Tidak Terstruktur
3. Kuesioner
Kuesioner merupakan metode penelitian yang harus dijawab responden
untuk menyatakan pandangannya terhadap suatu persoalan. Sebaiknya
pertanyaan dibuat dengan bahasa sederhana yang mudah dimengerti dan
kalimat-kalimat pendek dengan maksud yang jelas.
7. Pengertian Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari karasteristik atau unit hasil pengukuran yang menjadi obyek penelitian.
Populasi terbagi dua, yaitu :
1. Populasi terbatas, populasi yang mempunyai sumber data yang jelas
batasnya secara kuantitatif sehingga dapat dihutung jumlahnya.
Contoh: Jumlah Penduduk, jumlah mahasiswa yang mendapat bea siswa.
2. Populasi tak terbatas, Sumber datanya tidak dapat ditentukan
batas-batasnya sehingga relative tidak dapat dinyatakan dalam bentuk
jumlah :
Contoh: Mencari logam mulia (mendulang emas)
Berdasarka sifatnya, populasi terbagi dua :
1. Populasi homogen, adalah sumber data yang unsurnya memiliki sifat
yang sama sehingga tidak perlu mempersoalkan jumlahnya secara
kuantitatif.
2. Populasi Heterogen, adalah sumber data yang
umumnya memiliki sifat atau keadaan yang berbeda (bervariasi, sehingga
perlu ditetapkan batas-batasnya, baik secara kualitatif maupun secara
kuantitatif.
8. Pengertian Sampel adalah sebagai bagian dari
populasi, Masalah sampel dalam suatu penelitian timbul disebabkan oleh
hal berikut:
1).Penelitian bermaksud mereduksi objek penelitian
sebagai akibat dari besarnya jumlah populasi, sehingga harus meneliti
sebagian saja dari populasi.
2).Penelitian bermaksud mengadakan
generalisasi dari hasil penelitiannya dalam arti mengenakan
kesimpulan-kesimpulan kepada objek, gejala, atau kejadian yang luas.
Pengertian Sampel menurut Wikipedia: Sampel merupakan bagian dari
populasi yang ingin diteliti; dipandang sebagai suatu pendugaan terhadap
populasi, namun bukan populasi itu sendiri. Sampel dianggap sebagai
perwakilan dari populasi yang hasilnya mewakili keseluruhan gejala yang
diamati. Ukuran dan keragaman sampel menjadi penentu baik tidaknya
sampel yang diambil. Terdapat dua cara pengambilan sampel, yaitu secara
acak (random)/probabilita dan tidak acak (non-random)/non-probabilita.
Sampel adalah sebagai bagian dari populasi, Masalah sampel dalam suatu penelitian timbul disebabkan oleh hal berikut:
1).Penelitian bermaksud mereduksi objek penelitian sebagai akibat dari
besarnya jumlah populasi, sehingga harus meneliti sebagian saja dari
populasi.
2).Penenlitian bermaksud mengadakan generalisasi dari
hasil penelitiannya dalam arti mengenakan kesimpulan-kesimpulan kepada
objek, gejala, atau kejadian yang luas.
9. Variabel adalah
suatu besaran yang dapat diubah atau berubah sehingga mempengaruhi
peristiwa atau hasil penelitian. Dengan menggunakan variabel, kita akan
mmeperoleh lebih mudah memahami permasalahan. Hal ini dikarenakan kita
seolah-olah seudah mendapatkan jawabannya. Biasanya bentuk soal yang
menggunakan teknik ini adalah soal counting (menghitung) atau
menentuakan suatu bilangan. Dalam penelitian sains, variable adalah
bagian penting yang tidak bisa dihilangkan.
Langganan:
Postingan (Atom)