Rabu, 20 Februari 2013

sosiolingguistik



BAB 2
KOMUNIKASI BAHASA
2.1 Hakikat Bahasa
Ciri-ciri yang merupakan hakikat bahasa yaitu itu antara lain, adalah bahwa bahasa itu sebuah sistem lamabang, berupa bunyi, bersifat arbiterer, produktif, dinamis, beragam, dan manusiaw. Berikut dibicarakan ciri-ciri tersebut secara singkat.

Bahasa adalah sebuah sistem, artinya, bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Bagi orang yang mengerti sistem bahasa Indonesia akan mengakui bahwa susunan “Ibu meng....seekor....di...” adalah sebuah kalimat yang bahasa Indonesia yang bear sistemnya, meskipun ada sejumlah komponen yang ditanggalkan. Tetapi susunan “Meng ibu se ikan goreng di ekor dapur” bukanlah kalimat bahasa Indonesia yang benar karena tidak tersusun menurut sistem kalimat bahasa Indonesia. Sebagai sebuah sistem, bahasa selain bersifat sistematis juga bersifat dinamis. Dengan dinamis maksudnya bahasa itu tersusun menurut suatu pola tertentu, tidak tersusun secara sembarangan. Sedangkan sistemis, artinya, sistem bahasa itu bukan merupakan sebuah sistem tunggal, melainkan terdiri dari sejumlah subsistem, yakni subsistem fonologi, subsistem morfologi, subsistem sintaksis, dan subsistem leksikon.

Sistem bahasa yang dibicarakan diatas adalah berupa lambang-lambang dalam bentuk bunyi. Artinya, lambang-lambang itu berbentuk bunyi, yang lazim disebut bunyi ujar atau bunyi bahasa. Setiap lambang bahasa melambangkan sesuatu yang disebut makna atau konsep. Umpanya, lambang bahasa yang berbunyi (kuda) melambangkan konsep atau makna “sejenis binatang yang berkaki empat yang biasa dikendarai”, dan lambang bahasa yang berbunyi (spidol) melambangkan konsep atau makna “sejenis alat tulis yang bertinta”. Karena setiap lambang bunyi itu memiliki atau menyatakan sesuatu konsep atau makna, maka dapat disimpulkan setiap satu ujaran bahasa memiliki makna.
Lambang bunyi bahasa itu bersifat arbiter. Artinya, hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya tidak wajib, bisa berubah, dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang tersebut mengonsepsi makna tertentu. Meskipun lambang-lambang bahasa itu bersifat arbitrer, tetapi juga bersifat konvensional. Artinya, setiap penutur suatu bahasa akan mematuhi hubungan antara lambang dengan yang dilambangkan. Misalnya, lambang (kuda)  hanya digunakan untuk menyatakan ‘sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai’, dan tidak untuk melambangkan konsep yang lain, sebab jika dilakukannya berarti dia telah melanggar konvensi itu. sebagaimana akibatnya, tentu komunikasi akan terhambat.

Bahasa itu bersifat produktif, artinya, dengan sejumlah unsur yang terbatas, namun dapat dibuat satuan-satuan ujaran yang hampir tidak terbatas. Umpanya, menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia susunana W. J. S. Purwadarminta bahasa Indonesia hanya yang mempunyai lebih kurang 23.000 buah kata; tetapi dengan 23.000 buah kata itu dapat jutaan kalimat yang tidak terbatas.

Bahasa itu bersifat dinamis, maksudnya, bahasa itu tidak terlepas dari berbagai kemungkinan perubahan yang sewaktu-sewaktu dapat terjadi. Perubahan itu dapat terjadi pada tataran apa saja: fonologi, morfologis, sintaksis, semantik, dan leksikon.

Bahasa itu beragam, artinya, meskipun sebuah bahasa mempunyai kaidah atau pola tertentu yang sama, namun karena bahasa itu digunakan oleh penutur yang heterogen yang mempunyai latar belakang sosial dan kebiasaan yang berbeda, maka bahasa itu menjadi beragam, baik dalam tataran fonologis, morfologis, sintaksi maupun pada tataran leksikon.

Bahasa itu ersifat manusiawi. Artinya, bahasa sebagai alat komunikasi verbal hanya dimiliki manusia. Hewan tidak mempunyai bahasa. Yang dimiliki hewan sebagai alat komunikasi, yang berupa bunyi atau gerak isyarat, tidak bersifat produktif dan tidak dinamis.

2.2 Fungsi-Fungsi Bahasa
 Wardhaugh (1972:3-8) mengatakan bahwa fungsi bahasa adalah alat komunikasi manusia, baik tertulis maupun lisan.

Bagi sosiolinguistik konsep bahasa adalah alat atau berfungsi auntuk menyampaikan pikiran dianggap terlalu sempit; sebab seperti dikemukankan Fishman (1972) bahwa yang menjadi persoalan sosiolinguisti adalah “who speak what language to whom, when and to what end’”. Oleh karena itu, fungsi-funsi bahasa itu, antara lain, dapat dilihat dari sudut penutur, pendenganr, topik, kode, dan amanat pembicaraan.

Dilihat dari sudut penutur, maka bahasa itu berfungsi personal atau pribadi. (lihat Halliday 1973, Finnocchiaro 1974;Jakobson 1960 menyebutkan fungsi emotif). Maksudnya, si penutur menyatakan sikap terhadap apa yang dituturkannya. Si penutur bukan hanya mengungkapkan emosi lewat bahasa, tetapi juga memperlihatkan emosi itu sewaktu menyampaikan tuturannya. Dalam hal ini pihak si pendengar juga dapat menduga apakah si penutur sedih, marah, atau gembira.

Dilihat dari segi pendengar atau lawan bicara, maka bahasa itu berfungsi direktif, yaitu mengatur tingkah laku pendengar (lihat Finnocchiaro 1974;Halliday 1973 menyebutkan fungsi instrumental). Di sini bahasa itu tidak “hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu, tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang diamui si pembicara.

Dilihat dari segi kontak antara penutur dan pendengar maka bahasa disini berfungsi falik (Jakobson 1960; Finnocchhiaro 1974 menyebutkan interpersonal’ dan Hallday 1973 menyebutkan interractional), yaitu fungsi menjalin hubungan, memelihara, memperlihatkan perasaan sahabat, atau solidaritas sosial.

Dilihat dari segi topik ujaran, maka bahasa itu berfungsi referensial (Finnocchiaro 1974;Halliday 1973 menyebutkan resepresential; Jakobson 1960 menyebutkan fungsi kognitif), ada juga yang meyebutkan fungsi donotatif atau fungsi informatif. Di sini bahasa itu berfungsi sebagai alat untuk membicarakan objek atau peristiwa yang ada disekeliling penutur atau yang ada dalam budaya pada umumnya

Dilihat dari segi kode yang digunakan, maka bahasa itu berfungsi metalingual atau metelinguistik (Jakobsin 1960;Finnocchiaro 1974), yakni bahasa itu digunakan unutk membicarakan bahasa itu sendiri.

Dilihat dari segi amanat (massage) yang akan disampaikan maka bahasa itu berfungsi imaginatif (Halliday 1973;Finnoccharo 1974; Jakobson 1960 menyebutkan fungsi poetic speech). sesungguhnya bahasa itu dapat digunakan unutk menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan; baik yang sebenarnya, maupun yang yang Cuma imaginasi (khalayan, rekaan) saja.

Dilihat dari buku dan sumber lain, misalnya Nababan (1983) tentu akan kita temukan berbagai fungsi bahasa yang lain, yang dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

2.3 Hakikat Komunikasi   
            Ada tiga komponen yang harus ada dalam setiap proses  komunikasi  yaitu:
1.      Pihak yang berkomunikasi, yakni pengiriman dan penerima informasi yng dikomunikasikan yang lazim disebut partisipan
2.      Informasi yang dikomunikasikan
3.      Alat yang digunakan dalam komunikasi itu.
Komponen ketiga dalam peristiwa komunikasi adalah alat komunikasi yang digunakan, yaitu bahasa (sebagai sebuah sistem lambang), tanda-tanda (baik berupa gambar, warna, ataupun bunyi), dan gerak-gerik tubuh.  Berdasarkan alat yang digunakan dibedakan adanya dua macam komunikasi, yaitu (1) komunikasi non verbal dan (2) komunikasi verbal atau komunikasi bahasa. Komunukasi non verbal adalah komunikasi komunikasi yang menggunakan alat bukan bahasa, seperti bunyi peluit, cahaya (lampu, api), semafor, dan termasuk juga alat komunikasi dalam masyarakat hewan. Sedangkan komunikasi verbal atau komunikasi bahasa adalah komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai alatnya. Bahasa yang digunakan dalam komunikasi ini tentunya harus berupa kode yang sama-sama dipahami oleh pihak penutur dan pihak pendengar.

2.4 Komunikasi Bahasa
            Dalam setiap komunikasi-bahasa ada dua pihak yang terlibat, yaitu pengirim pesan (sender) dan penerima pesan (receiver). Ujaran (berupa kalimat atau kalimat-kalimat) yang digunakan untuk menyampaikan pesan (berupa gagasan, pikiran, saran, dan sebagainya) yang disampikan pengirim (penutur) kepada penerima (pendengar). Setiap proses komunikasi-bahasa dimulai dengan si pengirim merumuskan terlebih dahulu yang ingin diujarkan dalam suatu kerangka gagasan. Proses ini dikenal dengan istilah semantic enconding. Gagasan itu lalu disusun dalam bentuk kalimat atau kalimat-kalimat yang gramatikal; proses memindahkan gagasan kedalam bentuk kalimat yang gramatikal ini disebut grammatical enconding.

            Ada dua macam komunikasi bahasa, yaitu komunikasi searah dan komunikasi dua arah. Dalam komunikasi searah, si pengirim tetap sebagai pengirim, dan si penerima tetpa sebagai penerima. Komunikasi searah ini terjadi, misalnya, dalam komunikasi yang bersifat memberitahukan, khotbah di masjid atau gereja, ceramah yang diikuti tanya jawab, dan sebagainya. Dalam komunikasi dua arah, secara berganti-ganti si pengirim bisa menjadi penerima, dan penerima bisa menjadi pengirim. Komunikasi dua arah arah ini terjadi, misalnya, dalam rapat, perundingan, diskusi, dan sebagainya.

            Sebagai alat komunikasi, bahasa itu terdiri dari dua aspek, yaitu aspek linguistik dan aspek nonlinguistik atau paralinguistik. Kedua aspek ini “bekerja sama” dalam membangun komunikasi-bahasa itu. Aspek linguistik mencakup tataran fonologis, morfologis, dan sintaksis. Ketiga tataran ini mendukung terbentuknya yang akan disampaikan, yaitu semantik (yang di dalamnya terdapat makna, gagasan, ide, atau konsep). Aspek paralinguistik mencakup (1) kualitas ujaran, yaitu pola ujaran seseorang, seperti faselto (suara tinggi), staccato (suara terputus-putus), dan sebagainya; (2) unsur supra segmental, yaitu tekanan (stres), nada (pitch), dan intonasi; (3) jarak dan gerak-gerik tubuh, seperti gerakan tangan, anggukan kepala, dan sebagainya; (4) rabaan, yakni yang berkenaan dengan indera perasa (pada kulit).

            Untuk lebih memahami kelebihan komunikasi-bahasa ini dibandingkan dengan sistem komunikasi yang ada dalam komunikasi yang ada dalam dunia hewan. Hasil penelitian yang diangkat dari Fromkin dan Rodman 1974 dan Akmajian dkk. 1979.

            Ada beberapa penilitian yang telah dilakukan terhadap sistem komunikasi berbagai jenis burung. Penelitian ini meyimpulkan bahwa dalam sistem komuniksi burung yang yang berupa “bunyi burung” dapat dibedakan ada dua macam komunikasi, yaitu (1) panggilan dan (2) nyanyian. Jeniskomunikasi burung yang disebut panggilan brupa bunyi yang terdiri dari satu nada pendek atau lebih, yang isinya atau pesannya sudah ditentukan sejak lahir.

            Penelitian terhadap sistem komunikasi lebah madu yang dilakukan oleh Von Frisch (Akmajian 1979) menunjukkan bahwa lebah pekerja (yang dapat kembali ke sarangnya dan memberi tahu lebah-lebah lainnya dimana ada sumber makanan.
            Penelitian terhadap alat komunikasi lumba-lumba menunjukkan bahwa lumba-lumba menggunakan bunyi vokal yang mirip bunyi “ceklekan” untuk mengatahui dengan tepat lokasi objek-objek yang mungkin menghalangi perjalannya didalam laut.

            Peniliitian terhadap simpanse dan terhadap beberapa hewan primata lainnya menunjukkan bahwa simpanse berkomunikasi dengan menggunakan sistem yang termasuk tanda-tanda visual, tanda-tanda yang dilihat berupa gerakan tubuh dan anggota badan lain; serta memalui pendegaran, penciuman, dan perabaan.

2.5 Keistimewaan Bahasa Manusia  
            Menurut Hockett dan Mc Neill ada 16 butir ciri kkhusus yang membedakan sistem komunikasi bahasa dari sistem komunikasi makhluk lainnya. Keenam belas ciri itu adalah sebagai berikut:
1.      Bahasa itu menggunakan jalur vokal auduitif. Banyak hewan, termasuk jengkrik, katak dan burung, yang sistem komunikasinya dapat didengar. Namun, tidak semuanya merupakan bunyi vokal. Katak, burung dan orang utan ini juga mempunyai jalur vokal auditif ini, seperti yang dimiliki manusia.
2.      Bahasa dapat tersiar ke segala arah; tetapi penerimaannya terarah. Maksudnya, bunyi bahasa yang diucapkan dapat didengar di semua arah karena suara atau bunyi bahasa itu merambat melalui udara; tetapi penerima atau pendengar dapat mengetahui dengan tepat dari mana arah bunyi bahasa itu datang.
3.      Lambang bahasa yang berupa bunyi itu cepat hilang setelah diucapakn. Hal ini berbeda dengan tanda atau lamabang lain, seperti bekas tapak kaki hewan, dan patung kepahlawanan yang dapat bertahan lama.
4.      Partisipasi dalam komunikasi bahasa dapat saling berkomunikasi. Artinya, seorang penutur bisa menjadi seorang pengirim lambang dan dapat juga menjadi penerimalambang itu.
5.      Lambang bahasa itu dapat menjadi umpan balik yang lengkap. Artinya pengirim lambang (penutur) dapat mendengar sendiri lambang bahasa itu.
6.      Komunikasi bahasa mempunyai spesialisasi. Maksudnya, manusia dapat berbicara tanpa harus mengeluarkan gerakan-gerakan fisik yang mendukung proses komunikasi itu.
7.      Lambang-lambang bunyi dalam komunikasi bahasa adalah bermakna atau merujuk pada hal-hal tertentu. Umpamanya kata kuda mengacu pada sejenis hewan berkaki empat yang biasa dikendarai.
8.      Hubungan antara lambang bahasa dengan maknanya bukan ditentukan oleh adanya suatu ikatan antara keduanya; tetapi ditentukan oleh suatu persetujuan atau konvensi di antara para penutur suatu bahasa. Jadi hubungan antara lambang bunyi (kuda) dengan maknanya, yaitu “sejenis kaki yang berkaki empat yang biasa dikendarai” bersifat arbitrer, semaunya.
9.      Bahasa sebagai alat komuniksi manusi adapat dipisahkan menjadi unit satuan-satuan, yakni, kalimat, kata, morfem, dan fonem. Padahal alat komunikasi makhluk lain merupakan satu kesatuan yang tidak dapt dipisah-pisahkan.
10.  Rujukan atau yang sedang dibicarakan dalam bahasa tidak harus selalu ada pada tempat dan waktu kini.
11.  Bahasa bersifat terbuka. Artiya, lambang-lambang ujaran baru dapat dibuat sesuai dengan keperluan manusia.
12.  Kepandaian dan kemahiran untuk menguasai atauran-aturan dan kebiasaan-kebiasaan berbahsa manusia diperoleh dari belajar, bukan melalui gen-gen yang dibawa sejak lahir.
13.  Sehubungan dengan ciri (12) diatas, maka bahasa itu dapat dipelajari. Artinya seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan, misalnya, dalam bahasa A dapat mempelajari bahasa lain, yang bukan bahasa lingkungannya.
14.  Bahasa dapat digunakan untuk menyatakan yang benar dan yang tidak benar, atau juga yang tidak bermakna secara logikal. Misalnya kita dapat mengatakan “Penduduk jakarta dewasa ini ada satu juta orang”, atau juga “Ibu kota Kerajaan Inggris adalah Oxford”.
15.  Bahasa memiliki dua subsistem, yaitu subsistem bunyi adan subsistem makna, yang memungkinkan bahasa itu memiliki keekonomisan fungsi. Keokonomisan fungsi itu terjadi karena bermacam-macam unit bunyi yang fungsional bisa dikelompokkan dan dikelompokkan lagi kedalam unit-unit yag berarti.
16.  Ciri terakhir adalah bahasa itu dapat kita gunakan unutk membicarakan bahasa itu sendiri. Alat komunikasi dari hewan tak ada yang dapat digunakan untuk membicarakan alat komunikasi hewan itu sendiri.






















2.      Simpulan
Ciri-ciri hakikat bahasa yaitu antara lain adlaah bahwa bahasa itu sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam, dan manusiawi. Fungsi bahasa menurut Wardhaugh, bagi sosiolinguistik, dilihat dari sudut penutur, dilihat dari segi pendengar atau lawan bicara, dilihat dari segi kontak antara penutur, dilihat dari segi topik ujaran, dilihat dari segi kode yang digunakan, dilihat dari segi amanat, dan dilahat dari buku atau sumbar lain. Hakikat komunikasi bahasa, ada 3 komponen dalam setiap komunikasi yaitu: pihak yang berkomunikasi, informasi yang diinformasikan, alat yang digunakan dalam komunikasi itu. keistimewaan bahasa manusi ada 16 yaitu: bahasa itu menggunakn jalur auditif, bahasa itu tersiar kesegala arah, lambang bahasa yang berupa bunyi itu cepat hilang setelah diucapakan, partisipan dalam komunikasi bahasa dapat saling berkomunikasi, lambang bahasa itu dapat menjadi umpan balik yang lengkap, komunikasi bahasa mempunyai spesialisasi, lambang-lambang bunyi dalam komunikasi bahasa adalah bermakna atau merujuk pada hal tertentu, hubungan antara lambang bahasa dengan maknanya bukan ditentukan oleh adanya suatu ikatan antara kedunya, bahasa sebagai alat komunikasi manusia dapat dipisahkan menjadi satuan-satuan, rujukan yang sedang dibicarakan dalam bahasa tidak harus selalu ada pada tempat dan waktu ini, bahasa bersifat terbuka, kepandaian dan kemahiran, bahasa itu dapat dipelajari, bahasa dapat menyatakan yang benar dan yag itdak benar, bahasa memiliki dua subsistem, bahasa itu dapat kita gunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar